18
@31harimenulis
Gagasan besar yang dibawa oleh Tomorrowland justru mempecundangi filmnya.
Mengisahkan
tentang pertualangan kehidupan seorang anak laki-laki jenius (Frank
oleh George Clooney) dan seorang anak perempuan (Casey oleh Britt
Robertson) dengan benang merah sebuah dimensi visioner bernama
Tomorrowland. Misi yang mereka lakukan akan berdampak secara langsung
kepada dunia yang sebenarnya.
Saya benar-benar menyukai ide dasar
Tomorrowland. Secara dangkal, Tomorrowland adalah “tempat rahasia”
hasil rekayasa para expert. Expert di situ bukan saja terbatas pada
ilmuwan, namun juga ahli seni dan sebagainya. Penekanannya, Tomorrowland
adalah tanah tanpa politisi, dengan penghuninya yang selalu optimis
serta pantang menyerah. Dan film ini sukses memberikan visualisasi
tersebut!
Kemegahan film ini secara visual sudah bisa ditebak
sejak bumper Disney muncul di awal. Istana yang biasanya berkesan
klasik, ikut dirombak dengan arsitektur modern melalui berbagai tiang
pancang dari besi. Belum lagi di paruh awal penonton juga sudah mulai
disuguhi kehidupan flashback hasil penceritaan dua tokoh utamanya dengan
latar Tomorrowland. Perasaan yang muncul jelas: pengin ikut mampir atau
bahkan tinggal di situ! Visual yang glamor juga didukung oleh
departemen suara, production design, sinematografi, serta costume
designer yang mumpuni.
Sayangnya, budget luarbiasa besar yang
dikucurkan (US$190 juta) hanya bisa membungkus luarannya saja. Secara
penampilan fisik film ini memang tampil prima. Namun ketika sudah masuk
ke plot penceritaan dan elemen vital pendukungnya terkait karakter,
bopeng di sana-sini. Saya benar-benar dibuat heran pada bagian ini.
Bagaimana bisa ide besar yang dijadikan premis gagal digali oleh proyek
ambisius macam ini? Mungkinkah Disney kecolongan, atau justru lepas
tangan?
Dan lagi, jajaran cast-nya juga parah tidak kepalang.
Chemistry antar karakternya nihil. Kekosongan yang terjadi di level ini
pada akhirnya hanya menyisakan kengerian: apakah casting juga dilakukan
secara asal-asalan? Bahkan hubungan karakter dalam satu keluarga pun
tidak bisa mekar, kaku. Apalagi ketika karakter itu berhubungan dengan
karakter lain yang sengaja dipertemukan?
Ditambah lagi banyak
pemeran pendukung yang tidak berguna di sini. Sekalinya ada yang
mendapat porsi lebih, penyelesaiannya tidak tuntas. Terpenggal di tengah
jalan seolah-olah karakter pendukung itu tidak pernah ada. Juga tentang
kebingungan Tomorrowland dalam menentukan siapa sebenarnya tokoh utama
di film ini. Pasalnya, di poster nama George Clooney lah yang ditulis
paling besar. Padahal di filmnya terlihat peran Britt Robertson jauh
lebih unggul dan mendominasi. Kalau itu memang menjadi strategi
marketing, kok buruk sekali caranya? Apalagi melihat fakta bahwa akting
Clooney di sini sangatlah standar bahkan cenderung gagal membangun
karisma tokohnya (kesannya Tomorrowland adalah film pedofil).
Sejujurnya,
Brad Bird sedang punya masalah apa, sih? Melihat track record-nya
selama ini (baik sebagai sutradara mapun penulis naskah), terutama untuk
Ratatouille, The Incredibles, dan Mission Impossible: Ghost Protocol,
seharusnya dia sudah khatam perkara pengembangan cerita dan pengarahan.
Bukan tanpa alasan, sebab saga Mission Impossible memang menjadi lebih
mudah dinikmati dan rapi setelah berada di tangannya. Kenapa formula
yang sama tidak dicoba untuk Tomorrowland? Atau karena jeda vakum yang
diambil terlalu lama?
Pada akhirnya, ide menarik yang coba
ditawarkan akan dengan mudah terlupakan gara-gara kehilangan fokus
penceritaan di sana-sini. Ini juga menjadi pembelajaran (lagi) bahwa
kegilaan efek visual saja tidak akan benar-benar bisa menyelamatkan
naskah yang memang masih buruk.
6,5/10