6
@31harimenulis
Saya seperti melihat diri saya sendiri setiap menonton Casey Neistat.
Meski saya belum se-plong dia dalam melakukan banyak hal di hidup ini.
Namun saya menyadari bahwa pola pikir kami hampir sama. Serupa.
Seperti ketika dia mengatakan jangan menyebut dorongan dengan kata passion. Ganti dengan motivasi.
Tanpa aba-aba, saya langsung menyetujuinya. Tanpa harus menyerukan “objection” di dalam hati.
Kemudian, mengapa?
Dia menjawabnya dengan mengalir. Motivasi itu memang ada, sedangkan passion itu kita yang merumuskan.
Celakanya ketika di tengah jalan kita tiba-tiba pindah halauan. Hilang tiba-tiba. Kita merasa salah dan jenuh dengan passion diri. Siapa yang bisa menghalau rasa labil yang berasal dari lubuk? Toh manusia memang paling bisa menoleransi pribadi masing-masing.
Sedangkan, ketika menjadikan sesuatu sebagai motivasi, hal itu independen. Kita lah yang harus mengejarnya sampai melampaui berdasarkan apa yang telah tercapai atau dicapai oleh hal lain.
.
Mungkin Anda bisa menonton Casey Neistat dengan lebih bijak. Bisa saja habis ini Anda langsung mengakses YouTube dan menarikan jari di atas keyboard untuk mengetikkan namanya.
.
Selamat berselancar dengan indahnya alternatif banyak hal.