[Pencerita] #Beat2015 35/365

Omong-omong, menjadi ada gunanya juga ketika manusia Indonesia sudah didoktrin untuk menceritakan hingga tuntas (pun teratur) kisah apa pun sedari kecil. Sejak masih belia kita semacam diminta untuk sudah memberikan kesimpulan pada tiap hal. Hal ini lah yang kemudian memunculkan fenomena, “ending-nya bagaimana?” Ya, banyak dari Indonesian yang melihat konklusinya dulu baru berminat untuk menguliknya lebih jauh, kalau dibuat nggantung atau sad ending sekalipun maka potensi diabaikan menjadi semakin besar.

Keteraturan ini juga tercermin di karya sinemanya. Kultur itu memang ajaib. Saya baru saja membuktikan sendiri lewat pemutaran film-film Berlinale di Kedai Kebun Forum hari ini, 4 Februari 2015. Film-film dari negara lain terlihat seperti puzzle-puzzle yang acak dan bahkan sukar untuk mengendalikan tempo sampai di tengah film. Bahaya dari metode ini adalah, seheboh apa pun inti yang ditawarkan, seringkali gagal untuk terus menggapai atensi penonton. Belum lagi sodoran fakta bahwa penonton masih harus menyesuaikannya dengan persepsi masing-masing.

Namun ketika sampai di pemutaran film karya anak negeri, Indonesia, terlihat kok. Meski dibuat seacak apa pun, mereka masih kentara dalam memperhatikan keteraturan plot dan kesimpulan. Sungguh, bisa dibuktikan sendiri. Saya kemudian melihat bahwa ini adalah modal besar yang dimiliki oleh Indonesia, asalkan memang dibarengi dengan kelengkapan yang konsisten dan berkualitas. Sedangkan untuk mencapai hal itu, sayangnya masih banyak hal yang perlu dibenahi bersama, terutama untuk aspek “penguasa pasar”.

Ayolah, bangsa kita adalah pencerita ulung!