Saya merasa semakin didesak dan harus mulai melengkapi kolom rumpang yang ada. Kejadian yang menjadi trend hari ini mengusik saya dan jelas membuat perasaan bersalah kalau harus menunggu terunggah ketika sudah basi.

Apakah Anda sudah membaca lini masa hari ini? Dipenuhi oleh screenshoot media barat (Amerika khususnya) dalam menyikapi kasus penembakan. Kali ini satu keluarga yang kebetulan muslim ditembak oleh seorang tetangganya. Motif yang dilemparkan sebagai alibi adalah konflik area parkir. Namun banyak yang menduga latar belakang terkuat adalah kebencian agama. Saya beberapa tahun belakangan sebetulnya tidak berminat untuk ikut mengobok-obok isu yang terkait dengan agama, namun karena ini berkaitan dengan sikap media yang ada, maka paling tidak saya harus mengomentarinya.
Secara dangkal, yang kemudian dijadikan komparasi adalah kasus penembakan di kantor majalah Charlie Hebdo beberapa waktu lalu. Korbannya kala itu kebetulan adalah orang kulit putih. Hal yang saya ingat adalah kala itu seluruh media barat sepakat dalam membuat provokasi dan mengutuk tentang penyerangan tersebut dan menyebutnya sebagai garapan teroris. Provokasi berjalan sangat mulus, seluruh pemimpin dunia dan perwakilannya di tiap negara ikut menyerukan kekejaman yang ada, mereka mau turun ke jalan dan vokal mengecam penembakan yang telah terjadi. Baik lah, ini adalah poin pertama.
Poin kedua adalah tentang penyerangan yang terjadi pekan ini terhadap tiga anggota keluarga yang telah saya sebut di paragraf dua. Saya melihat tindakan yang terjadi mirip motifnya dengan poin pertama. Korbannya lebih dari satu, ada keterlibatan motif agama, serta sama-sama terjadi di lingkungan barat. Pembedanya hanya terletak pada jenis pelaku. Satunya media sebut sebagai teroris, satunya lagi cukup disebut sebagai seseorang (a man).
Bisa dimaklumi mungkin ya, karena majority adalah asas yang dijunjung tinggi di sana maka kemudian tidak mengherankan sebetulnya ketika biasnya menjadi sangat kentara. Bias tidak masalah karena memang ada di semua media di tiap negara. Namun hal rasis sampai saat ini masih saya anggap sebagai dosa yang tidak boleh disenggol sekali pun. Konfrontasi terhadap kaum minoritas adalah tindakan paling pengecut yang pernah ada. Di Amerika sendiri, media pernah melakukan kesalahan besar ketika melakukan peliputan 9/11 (baca When the Press Fails), dampak mengerikan dari hal itu adalah munculnya penyakit islamophobic. Muncul generalisasi di mata mereka bahwa manusia Islam itu selalu berbahaya, atribut terkaitnya harus diwaspadai. Bahkan di banyak negara, orang dengan nama kearab-araban bakal melalui proses lebih lama untuk mendapatkan visa Amerika. Saya meyakini orang media memiliki pengaruh kuat di balik kerumitan ini.
Tidak hanya isu agama, media di Amerika ternyata juga masih membedakan urgensi berdasar ras warna kulit. Ketika Charlie Hebdo diekspose habis-habisan (padahal lokasinya bukan di negaranya), ternyata penembakan terhadap warga negaranya sendiri yang berkulit hitam beberapa waktu silam malah nyaris tidak terdengar di media. Sama kasusnya dengan penembakan terhadap keluarga muslim kali ini. Saya kemudian jadi teringat juga ketika negara afiliasi Australia berbondong-bondong menyurati Indonesia supaya membatalkan eksekusi mati dua pengedar narkoba anggota Bali Nine (karena merupakan warga negaranya) dengan mengatasnamakan kemanusian.
Apakah versi kemanusiaan mereka berbeda? Atau, apakah sebenarnya seluruh dunia (tidak terkecuali Indonesia) memang masih mencari tahu definisi kemanusiaan yang sebenarnya? Manusia yang mana yang perlu dan boleh serta punya hak “kemanusiaan”?
Tolong media ikut melakukan pencarian itu. Jangan memotong di tengah jalan dan malah menyesatkan. Saya prihatin.