[Intimidating] #Beat2015 8/365

Selamat malam, #Beat2015 8/365

Atau hanya saya yang sadar? Bahwa musim penghargaan kali ini penuh dengan hal depresi. Sangat kelam di permukaan. Dibalut oleh keindahan dan kemegahan hasil produksi.

Atau karena manusia sedang melampiaskan depresi di saat bersamaan? Sehingga mencoba untuk membuat manusia lain merasakan hal serupa. Mencari teman seperjuangan.

Atau sedang memulai fase baru? Sebab sudah jengah dengan tema-tema uplifting yang sudah terlalu lama ada. Akhirnya kontender jadi mudah untuk ditentukan.

Atau biar membuat bingung? Bisa jadi. Ketika menyaksikannya untuk dinilai, biasanya mental yang tidak memiliki depresan akan dengan mudah dikacaukan.

Saya merasa tertampar berkali-kali. Setelah baru dua film yang hari ini saya tonton. Keduanya kandidat berat untuk nominasi Best Pictures. Whiplash dan Birdman. Keduanya mengintimidasi lewat cara yang berbeda, meski sama-sama membawa peluang seni dengan level sangat-sangat terhormat. Whiplash menunjukkan intensnya perlakuan penekanan yang (sekali lagi) tidak akan berhasil di akhir ketika bentuk penolakan itu terus meluap-luap. Maka jalan lain lah yang terbuka, pemberontakan melalui hati nuraninya sendiri. Pun Birdman, siapa yang bisa menyalahkan kalau ternyata depresi itu sudah sampai ke ubun-ubun? Sudah terlalu lama terkerangkeng juga di tubuh orang lain karena paksaan orang yang depresi itu? Meledak lah pula.

Saya belajar banyak hal lagi hari ini, baru hanya dari dua film tersebut. Rasa gembira yang membuncah ini sulit untuk dikendalikan. Mungkin kalau saya diajak untuk membicarakan Birdman atau Whiplash (atau kontender Oscars lainnya) bakal histeris saking bahagianya. Tolong, saya sedang bahagia, sangat.