[Pakta] #Beat2015 6/365

Selamat malam, #Beat2015 6/365

Saya sebenarnya masih sering dibuat bingung oleh mekanisme otak sendiri. Misalkan saja ketika sedang dalam posisi dihimpit kebutuhan atau paksaan yang mendadak, refleks saya adalah melakukan pengetatan prioritas. Namun sayangnya berlaku pula sebaliknya, kalau masih ada waktu cukup panjang, maka berarti pula ada waktu untuk tidak melakukan apa-apa dulu.

Hari ini serasa hari terakhir ujian. Beban terberat yang ditumpahkan kepada mahasiswa semester nyaris empat ini bisa dibilang telah terangkat tadi. Nyatanya, masih ada dua ujian lain yang menanti: satunya ujian di kelas secara open source dan satunya ujian lisan yang sebenarnya masih menyisakan rasa gugup. Saya sudah tau skenarionya seperti apa untuk poin pertama, namun untuk poin kedua–saya tidak punya gambaran bagaimana ujian lisan kali ini, terlalu unpredictable.

Itu hanya contoh kecil. Seolah-olah memang otak ini didesain untuk berbuat selo pada hal di antara kegentingan. Dan tertekan (dalam diam) di momen lainnya. Asik sih sebenarnya, jadi kepanikan yang ada bersifat temporer pun selain yang memang mendesak, jadwalnya bisa dipindah-pindah secara fleksibel.

Sepertinya saya malah membuat pakta pemakluman diri.