Stunning Interstellar – Day 310 of 365

Project 2014 Day 310 of 365

6 November 2014. Saya speechless! In Nolan we trust!

Review di bawah ini sudah termuat di laman tersapa.com

image

Judul: Interstellar | Sutradara: Christopher Nolan | Penulis naskah: Jonathan Nolan dan Christopher Nolan | Pemain: Matthew McConaughey, Anne Hathaway, Jessica Chastain | Genre: Petualangan, Sci-fi | Durasi: 169 menit | Rilis: 6 November 2014 (Indonesia)

Interstellar tampil setara dengan The Dark Knight untuk nilai-nilai humanis yang dibawanya.

Saya kesulitan untuk langsung membuat review Interstellar sesaat setelah durasi habis, sebab saya melihat bahwa tidak ada hal yang perlu di-review, apalagi sampai dikritik. Interstellar tampil dengan sangat anggun, logis tanpa cela, dan dapat membuat siapa pun penontonnya jatuh hati pada pandangan pertama. Bahkan pelajaran fisika belum pernah seasyik ini. Setelah tuntas dengan Interstellar, bawaannya adalah ingin segera mencari informasi lengkap tentang banyak hal yang telah ditampilkan di situ.

Matthew McConaughey lagi-lagi sanggup memberikan penampilan layar lebar yang menarik dan sangat sesuai. Saya tidak bisa membayangkan kalau karakter Cooper dimainkan oleh aktor lain. Begitu pun dengan Mackenzie Foy, si Murph kecil yang sanggup mengoyak batin penonton dengan begitu mudah atas kedekatan emosionalnya dengan Cooper. Anne Hathaway, Michael Caine, Matt Damon, Casey Affleck, Jessica Chastain, serta pemain lain sanggup menyuguhkan akting di atas rata-rata. Bahkan TARS yang berbentuk robot balok pun sanggup menampilkan sisi menarik yang mencuri perhatian di banyak bagian.

Dialog yang diberikan merupakan pilihan yang menarik. Banyak kalimat satire pun pencerah yang terlontar. Bahkan di sela-sela durasi saya berkali-kali memikirkan, kenapa ini dialognya bisa dijadikan kutipan semua? Selain itu, banyak adegan yang dapat membuat emosi siapa pun tergoncang. Menangis bukan lagi menjadi hal yang gengsi untuk film ini.

Di departemen lain, sekali lagi saya harus memberikan standing applause untuk Hans Zimmer yang telah berhasil menginjeksi Interstellar dengan scorring yang luar biasa. Efek visual yang ada pun sanggup membuat siapa pun berdecak kagum dari awal hingga akhir. Dan perlu diingat pula bahwa set Interstellar nyaris 100% dibangun tanpa greenscreen, jadi benar-benar ada bentuk riilnya, termasuk pesawat dan TARS-nya.

Tidak seperti Inception, Interstellar adalah karya Nolan yang tampil dengan open ending yang universal. Penonton dapat melakukan interpretasi masing-masing tanpa harus ada peredebatan sengit. Hal tersebut pernah terjadi setelah Inception rilis, banyak orang yang berdebat panjang tentang open ending khas yang diberikan oleh Nolan. Interstellar mampu memekarkan perasaan “beautiful” sesaat setelah credit title berjalan. Pun dilengkapi oleh penyelesaian semua suguhan yang telah diejawantahkan dari awal hingga akhir, semuanya tereksekusi tanpa ada yang tertinggal, keterkaitannya sanggup dijahit dengan sangat rapi.

Saya kesulitan menemukan padanan kata yang tepat untuk menggambarkan Interstellar setelah filmnya usai. Interstellar adalah penjelasan logis untuk banyak hal dari sudut pandang Nolan bersaudara, terutama definisi mengenai “hantu”, “dimensi kelima”, dan “cinta”. Ini adalah salah satu pengalaman cinematic terbaik yang bisa diperoleh abad ini, sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja (tonton di bioskop!).

Saya puas dan speechless di saat bersamaan, STUNNING!

Aef Anas memberikan 10 dari 10 bintang untuk Interstellar.