Tabula Rasa – Day 276 of 365

Project 2014 Day 276 of 365

image

3 Oktober 2014. Dalam posisi puasa, saya memutuskan untuk menonton Tabula Rasa. Sepertinya pilihan yang keliru, sebab di sini ditampilkan kenikmatan masakan Padang yang memang susah untuk ditolak. Kuatkan lah saya…

Judul: Tabula Rasa | Durasi: 107 menit |Genre: Drama keluarga | Rumah Produksi : LifeLike Pictures | Sutradara : Adriyanto Dewo | Pemain: Jimmy Kobogau, Yayu Unru, Ozzol Ramdan, Dewi Irawan

Hans, pemuda dari Serui, Papua yang mempunyai mimpi menjadi pemain bola profesional. Tapi ternyata nasib yang diterima tidak sejalan. Di saat Hans hampir kehilangan asa untuk hidup, ia bertemu dengan Mak, pemilik rumah makan Padang. Di tengah perbedaan Hans dan Mak, mereka ternyata memiliki persamaan. Makanan merupakan cara baik untuk bertemu, dan lewat makanan serta masakan, Hans kembali menemukan mimpi dan semangat hidup.

Suasana yang terbangun di film ini mengingatkan saya pada adaptasi layar lebar Madre—diangkat dari novelet karya Dee Lestari. Bedanya, Madre mengangkat kisah tentang roti, sedangkan Tabula Rasa memiliki benang merah yang lebih khas: masakan Padang.

Secara umum (di Indonesia) jelas masakan Padang lebih membumi. Sebab persebarannya sangat masif. Bisa jadi ini lah salah satu penyebab Tabula Rasa terasa lebih hangat bahkan setelah keluar dari gedung bioskop. Ditambah taburan menu masakan lokal yang sudah tidak asing lagi di kehidupan masyarakat sehari-hari.

Menonton Tabula Rasa seperti mencoba mencicipi masakan lewat cara lain. Sama-sama bikin kenyang, ngiler, dan puas. Film ini akhirnya memberikan perasaan lega bagi para penonton film lokal yang sepanjang tahun 2014 semacam dibuat bingung dengan berbagai keganjilan karya layar lebar. Muncul di kuartal terakhir 2014 dengan membekaskan kesan hangat, ringan, dan sederhana, pun konflik keluarga yang cair. Sepertinya sudah cukup lama Indonesia tidak memiliki film keluarga semenyenangkan ini.

Jika sebelum-sebelumnya kesalahan yang sering terjadi di film layar lebar Indonesia adalah kualitas produksinya hanya sekelas FTV, Tabula Rasa tidak demikian. Porsi visualisasi, akting serta chemistry pemain, pun tanggung jawab pada genre drama-komedinya terasa pas.

Kadang memang tidak perlu cerita rumit atau pemain yang sedang hits untuk menjadikan sebuah film bernilai bagus. Asalkan rasa menyenangkan ketika/setelah menonton film itu ada, rasanya sudah lebih dari cukup. Tabula Rasa saya nobatkan sebagai film Indonesia terbaik untuk 2014 ini (setidaknya sampai Oktober 2014). Ini lah film keluarga yang sebenarnya!