#20thPROJECT
#week12
12 Tahun
17 Juli 2014.
Seolah memang tidak ada yang namanya kompromi waktu. Tiba-tiba saja semuanya bersekongkol untuk menempatkan saya di kelas enam SD pada usia ini. Saat di mana saya mulai berpikir mengapa harus ada ujian yang diistimewakan? Dilakukan secara terpisah, hanya memakai satu ruangan, tapi seiisi sekolah pakai acara diliburkan.
Ada lumayan banyak etape yang mesti dilalui kalau mau lulus dari ujian yang di kemudian hari lebih dikenal sebagai Ujian Nasional (UN). Pendataan di awal, ujian sekolah, ujian praktik, ujian nasional, cap tiga jari di atas selembar kertas, terakhir pelepasan. Untuk sebuah ritme yang memang berjalan berurutan, tidak bisa disangkal hal itu nampak rapi. Tapi sebenarnya itu hanya yang terlihat di permukaan.
Terlebih sekolah saya bukan sekolah yang terlalu menonjol, pun lokasinya saja berada di tengah-tengah dusun. Muridnya tidak semuanya memiliki kapasitas untuk melakukan eksekusi harapan negara. Bukannya berlaku diskriminatif, tapi saya bilang bahkan di ujian sekolah pun saya masih ingat dulu sampai ada guru yang memberikan kemudahan dengan memancing jawaban. Bisa ditebak, nilainya rata-rata sama.
Parahnya, karena saya adalah manusia yang memiliki tingkat ngeyel tinggi seperti sudah saya tulis sebelumnya. Maka jawaban gratis itu tidak langsung saya tulis, masih ada konflik pada diri sendiri, sehingga lebih memilih untuk tetap menjawab beda. Terang saja salah, terus nilai saya nyaris berada di urutan bawah.
Lain cerita dengan ujian nasionalnya, pengawas dari sekolah lain, dan kebetulan muka pengawasnya galak-galak. Saya bersyukur, bisa mengerjakan soal dengan lebih tenang. Pada akhirnya ketika hasilnya diumumkan, saya berada di peringkat pertama. 23,13.
Tidak ada target angka sama sekali, tujuan utama saya hanyalah tetap berada di peringkat pertama. Sebab itu akan memudahkan saya untuk masuk ke SMP N 1 Kalasan (ada jalur khusus, yaitu bagi mereka yang meraih juara pertama di masing-masing sekolah).
Terlalu banyak hal baik pun buruk di era SD ini, sebagian ada yang ingin tetap saya kenang, sebagian lainnya benar-benar ingin saya benamkan. Apalagi memang bullying era itu masih sangat marak, bukan fisik yang saya permasalahkan, tapi verbal yang bahkan keluar dari mulut orang yang tidak mengenal saya.
Sampai jumpa pekan depan.