WWM – Day 198 of 365

Project 2014 Day 198 of 365

17 Juli 2014. Setelah sebelumnya sempat melakukan perdebatan alot tentang tanggal berapa yang akan dipakai untuk meet-up, hari ini akhirnya terlaksana juga rencana itu. Meskipun kurang satu orang supaya bisa disebut lengkap, tapi sesungguhnya the show must go on. Nyaris lupa dulu siapa orang pertama yang mencetuskan nama Wedhus-Wedhus Manja, namun nyatanya kami terima-terima saja dengan titel itu. Terdengar lucu ketika nama itu saya ungkapkan ke orang-orang lain. Ketika saya menceritakan tentang hal-hal absurd apa yang pernah kami lakukan bersama, ketika sedang pada fase brutal. Tetap ngakak ketika mengingat banyak kejadian yang dengan laknatnya selalu berhasil terlaksana.

Kalau ada dua hal yang membuat saya benar-benar bisa mensyukuri masa SMA, pertama adalah kelas XC (a.k.a Ceplok) dan kedua adalah WWM (ada delapan orang). Dua hal itu selalu sukses membuat saya rela ngelamun beberapa waktu hanya untuk membangkitkan memori, sekaligus suasana yang terbangun kala itu. Teringat oleh seberapa masifnya kejahatan kami, tawa lebar dan malah condong ke bentuk tawa anarkis, cerita-cerita aib yang seolah tidak masalah menjadi konsumsi publik, pun tahun-tahun akhir yang jujur, kemudian menjadikan saya merasa sebal sebab teman-teman saya itu menjadi pemain utama perasaan dengan orang lain, gelombang galau mereka seolah tiba-tiba pasang tanpa mengenal surut. Kala seperti itu, saya hanya bisa memposisikan diri sebagai pendengar yang baik, karena saran yang diberikan pada akhirnya juga bakal banyak yang membentur tembok-tembok ego. Apalagi itu tahun akhir pula, mana sempat menambah beban selain galau dan ujian?

Lupakan semua hal yang seolah tidak menyenangkan, toh nyatanya kami bisa melalui itu dan rasa kangen sering menyergap. Rindu untuk melakukan kebersamaan lagi. Dan hari ini sudah tumpah dari cukup. Saya bisa benar-benar ngakak karena roti kutukan bikinan Nisul, yang ternyata ia salah memasukkan bubuk coklat dengan bubuk rempah, pun lupa menambahkan margarin. Menyebabkan roti yang dibikinnya luarbiasa absurd, bahkan dari bentuk, tekstur dan rasa. Parahnya, kami lah yang diminta untuk menghabiskannya. Kampret!

Akhirnya. Akhirnya. Dan akhirnya lah yang bakal terus terulang. Mengudara sampai beberapa waktu ke depan, menunggu rasa kangen itu menyergap lagi. Iya saya satu-satunya cowok di group ini. Entah bagaimana mulanya. Bisa jadi kami disatukan karena sama-sama berkelakuan hiperatif (Anda harus mengiyakan hal ini, saya dan teman-teman ini benar-benar hiperaktif, bahkan lebih hiperaktif dari yang Anda bisa bayangkan). Tidak mengenal kata harga diri kalau sedang bareng. Tapi kalau mau dipikir, bisa jadi itu adalah alasan terkuatnya mengapa kami bisa nyambung, bahkan teman saya yang lain (cowok dan ga cuma satu orang yang bilang begini) pernah berujar saya adalah teman cowok paling edan yang pernah dia kenal. Astagfirullah.

Intinya, saya menanti pertemuan-pertemuan selanjutnya. Entah kapan itu. Jangan jadikan kuliah sebagai alasan untuk menjadi kalem! Kami memfatwakan haram untuk satu frasa itu. Hahaha.

Hari ini saya benar-benar puas.

Sudah bernostalgia apa hari ini?

Tontonan hari ini Under The Dome S02E03