Project 2014 Day 200 of 365
19 Juli 2014.
Rencana awal: diskusi “Belajar Menulis Cerpen” di Balai Bahasa Yogyakarta. Dilanjutkan dengan buka bersama. Kebetulan gratis.
Apa sih yang nggak buat titel gratis?
Sebetulnya saya mengharapkan hal lebih. Sebab narasi panjang yang tadi diungkapkan dalam diskusi berkali-kali sudah pernah saya terima. Jadi seolah tidak memperoleh apa-apa selain kenyang.
Tapi, untuk sekedar apresiasi, apa yang diungkapkan sore tadi juga bisa membangkitkan ingatan tentang beberapa elemen penting cerpen. Elemen yang saya akui sangat sering terabaikan. Mungkin disebabkan, saya sempat melabeli diri sudah tidak cocok dengan tulisan bentuk cerpen. Padahal dulu sempat benar-benar sakaw pada hal ini. Miris.
Saya mengabaikan bagian penting kalau cerpen sesungguhnya adalah konflik, tanpa itu, sama saja penulis hanya menumpahkan idenya menjadi rupa cacatan harian. Ditambah, cerpen memang tidak harus berisi dialog (seperti yang sering saya buat), tapi kalau mau benar-benar mayor narasi, maka harus bisa membalutnya dengan baik sehingga terlihat hubungan konstan dari awal sampai akhir. Bahasa gampangnya, menjaga ritme, tetap dalam koridor konflik. Nah, rasanya saya gagal di bagian ini. Saya sering terburu-buru ketika menulis cerpen sehingga ritmenya tidak terjaga, bahkan konfliknya terkesan kabur.
Akan dicoba untuk mengaplikasikannya. Segera.
Terlepas dari diskusi, sore tadi berhasil membuat saya KSBB. Sebab secara tidak sengaja ketemu dengan dua mbak-mbak yang dulu sempat bareng berangkat ke Jakarta untuk Jambore Bahasa dan Sastra Indonesia 2011 (omong-omong kami sangat akrab dan gila, meskipun durasi perkenalannya dulu sangat singkat, kurang dari sebulan). Sama-sama kontingen DIY. Serius, saya luarbiasa kangen dengan momen itu, saya masih ingat betul bagaimana kebersamaanya. Saya ingat betul tengah malam mlipir ke luar Bumi Perkemahan Cibubur bersama satu kontingen hanya untuk mencari restoran fast-food. Ingat betul bagaimana menyaksikan malam apresiasi dari masing-masing kluster (dan sesi bersama mbah Sudjiwo Tedjo). Ingat ketika pertama kali naik pesawat, dan itu gratis (terimakasih Pusat Bahasa!). Ingat ketika dalam satu tenda terdiri dari berbagai perwakilan daerah, kebetulan tenda saya berisikan delapan orang dengan asal daerah yang berbeda-beda. Ingat ketika malam hari, hujan berkali-kali turun, tenda kelompok saya kebanjiran, kami kebingungan. Dan yang jelas, paling ingat karena musibah tenda itu, maka di hari-hari berikutnya, saya dan teman-teman satu kontingen DIY memutuskan untuk tidur di emperan masjid (karena pintu masjidnya ditutup jadi tidak bisa tidur di dalam, sedih). Dan kelingan sing biyen-biyen (KSBB) lainnya.
Intinya, pekan ini sepertinya layak menyandang gelar pekan raya kangen. Serius.
Ah, saya lega masih bisa merasakan rasa kangen. Mengingat banyak momen yang memang layak untuk dimasukkan ke dalam perbendaharaan kebahagiaan.
Sudah KSBB hari ini?
Tontonan hari ini Earth to Echo (2014), seperti kemarin (Under the Skin) film ini juga bakal saya buat review terpisah.