Dawn of the Planet of the Apes – Day 192 of 365

Project 2014 Day 192 of 365

11 Juli 2014. Di bawah adalah tulisan saya untuk review Dawn of the Planet of the Apes (2014) dan juga termuat di tersapa.com

Kalau di prekuelnya, Rise of the Planet of the Apes (2011), penonton merasa sudah diberikan suatu sajian yang mewah. Maka untuk sekuelnya ini bakal lebih memenuhi ekspektasi audiens. Flashback tiga tahun lalu, Rise Apes tidak memperoleh gembar-gembor berlebihan sebelum rilis. Bahkan banyak kalangan termasuk kritikus yang bersikap skeptis, sebab film tersebut adalah reboot dari Planet of the Apes pada 2001 (juga merupakan reboot) yang sayangnya memang gagal memenuhi harapan. Tetapi setelah diluncurkan, ternyata Rise Apes langsung memutar balikkan semua sentimen negatif yang beredar. Reboot kala itu menampilkan sesuatu yang beda, lebih emosional dan mengagumkan sehingga menjadikannya masuk dalam jajaran film berkualitas serta sukses besar secara finansial.

Caesar (Serkis) hadir lagi di 2014 bersama kawanannya di Dawn of the Planet of the Apes. Berseting sepuluh tahun sejak peristiwa terakhir, entah mengapa konflik yang timbul kali ini bisa terlihat sangat halus. Sebab hampir tidak bisa ditentukan mana kubu baik dan sebaliknya. Setiap tindakan yang ditampilkan di layar memiliki rasionalitas sendiri-sendiri sehingga tidak bisa begitu saja dipersalahkan. Bahkan tokoh Koba (Kebbel) yang terlihat antagonis pun pada akhirnya bakal berhasil memperoleh simpati penonton. Apalagi untuk posisi ras manusianya sendiri. Coba saksikan pertarungan gila yang terjadi antara bangsa apes dan manusia!

Dawn Apes mengubah stigma umum tentang film aksi bahwa sebenarnya manusia tidak harus selalu yang ditonjolkan. Pada film ini, apes malah mengambil porsi mayoritas sehingga ikatan emosi yang terjalin pun lebih kepada kawanan ini. Untuk beberapa scene, penonton berhasil diarahkan untuk membenci manusia, sekaligus di scene berikutnya diajak untuk melihat hubungan romantis lintas spesies.

Matt Reeves (Cloverfield) lah yang didapuk untuk mengisi kursi sutradara. Ia sebenarnya sutradara yang berbakat, namun sayangnya nama Reeves seringkali dibayang-bayangi tokoh lain. Misalnya ketika menggarap Cloverfield, Reeves tertutupi oleh nama besar J.J. Abrams. Apalagi ketika mengarahkan Let Me In, ternyata perhatian publik pun kritikus malah tersedot pada versi aslinya yang berasal dari Swedia. Akhirnya tahun ini dia berhasil menggunakan Dawn Apes sebagai senjata yang manjur untuk mencuri perhatian masyarakat luas. Reeves secara jenius mengantarkan kisah gerombolan apes ini ke level baru yang lebih mumpuni.

Plot cerita, pengambilan gambar, serta tentu saja efek CGI yang digunakan Dawn Apes jelas berada di atas rata-rata. Film ini sukses tampil mengagumkan di tengah-tengah opini kalau film blockbuster–apalagi tayang di liburan musim panas–tidak butuh cerita mumpuni, yang penting bisa membuat senang penonton. Mengingat film Transformers terbaru memang dikemas secara demikian: plot lemah namun efek CGI memanjakan mata. Dawn Apes mematahkan stigma itu. Rasanya susah mencari sisi minor dari sekuel ini, sebab secara kasat mata pun Reeves bersama krunya berhasil menyuguhkan visual yang jauh lebih luwes dari Rise Apes.

Dawn of the Planet of the Apes adalah antitesis dari Transformers Age of Extinction, di lain pihak sama-sama digadang-gadang sebagai blockbuster terbesar tahun ini. Pastinya akan berhasil mengobati penonton yang merasa jengkel dan menyesal setelah menyaksikan rombongan Optimus, sebab sepanjang durasi Transformers, cerita yang disajikan tidak jelas pun melelahkan.