Age of Extinction – Day 176 of 365

Project 2014 Day 176 of 365

25 Juni 2014. Review ini juga tersedia di laman tersapa.com

image

Digadang-gadang sebagai film blockbuster paling diantisipasi musim panas ini, nyatanya tidak menjamin kualitasnya bakal membaik secara signifikan. Mark Wahlberg memerankan Cade Yeager yang menjadi tokoh utama untuk sekuel kali ini. Lupakan Shia, karena secara kualitas jelas Mark lebih bisa menangani perannya. Joshua Joyce yang diperankan oleh Stanley Tucci malah terlihat kurang maksimal dalam mengeluarkan kemampuan aktingnya, masih pada level biasa saja. Sedangkan aksi pertarungan yang disajikan lebih baik daripada Dark of the Moon, salah satu hal yang membuatnya menarik karena kehadiran Dinobots. Satu hal lagi yang pasti tidak pernah ketinggalan: ledakan di mana-mana khas Bay!

Seperti kebiasaan film live-action Transformers sebelumnya, memang efek visual CGI lah yang menjadi jualan utama. Seolah satu-satunya alasan mengapa Transformers masih dianggap layak ditonton di bioskop (yang juga menjadi alasan mengapa sekuelnya selalu bertambah) karena grafisnya yang memanjakan mata, hanya itu.

Secara keseluruhan, Age of Extinction jelas lebih baik daripada dua pendahulunya (Transformers 2 dan 3). Meskipun isu paling penting: plot, masih menjadi momok bagi banyak film garapan Michael Bay. Dengan trailer yang sudah dirilis beberapa bulan sebelumnya, saya sempat berpikir Transformers 4 bakal menunjukkan perbaikan alur cerita yang cukup besar. Mengingat film kali ini seperti mengulang semuanya dari awal. Sampai sekarang, plot paling baik (untuk franchise ini) masih dipegang oleh Transformers 1.

Transformers Age of Extinction belum bisa menjadi yang terbaik dari keseluruhan installment. Michael Bay agaknya mulai harus serius bergerilya untuk memperbaiki kualitas naskah (Ehren Kruger harus diprivat!) agar Transformers 5 yang rencananya akan dirilis 2016 tidak terlalu banyak memperoleh review negatif seperti sekuel-sekuel sebelumnya. Kemewahan efek visual CGI saja tidak cukup.