#dina12
Ditemani oleh segelas besar teh manis, saya mencoba untuk fokus menuliskan apa yang coba ditumpahkan. Bisa jadi bisa, bisa jadi tidak. Dari kejauhan terdengar suara jangkrik yang tidak putus-putus. Dari kamar ini terdengar bebunyian banyak detik jarum jam, meskipun setelah saya lihat, jamnya malah masih menunjukkan pukul 06:30. Padahal sekarang jam setengah 12 malam. Selalu seperti itu.
Jangkrik masih mengeluarkan bunyi. Mengapa suara katak yang parau itu malah tidak pernah terdengar lagi?
Sekarang suaranya ditambah oleh bebunyian kipas angin yang berasal dari laptop saya. Umurnya sudah nyaris 5 tahun—sebentar, barusan saya dengar cicak bersendawa—baterai bawaannya hanya bisa bertahan dua menit kalau tanpa charger. Maka sekarang dia memakai baterai yang lain, dikatakan double power. Memang double, termasuk netto-nya. Baterai sudah disinggung, ah, sekarang kipas laptop yang tadi sempat disebut. Dia sepertinya sudah uzur, terlalu lelah karena keseringan menghirup dedebuan. Pernah dia suatu waktu tidak bergerak sama sekali. Awalnya saya tidak sadar, lalu tiba-tiba blue screen! Restart. Blue screen lagi! Sampai beberapa kali hingga akhirnya saya meraba bagian intim kipas itu dan mendapatinya sangat panas, bahkan baunya gosong. Sial! Jangan sampai ada komponen lain yang terbakar lagi! Sudah dua komponen yang pernah terbakar, dua kali pun saya merasa lumayan galau.
Bisa jadi lebih? Tapi sebenarnya saya termasuk yang jarang galau. Sering berpikiran yang tidak-tidak, iya. Teh di gelas besar yang tadi saya bikin sepertinya sudah mendingin. Habiskan dulu. Selamat malam!