#SelapanDinaNulis Waktu dan Proses [Bagian 2]

#dina6

Kali ini harus dua, karena draftnya terlalu malas untuk keluar sebelum jam 23:59. Konsekuensinya, harus ada double posting. Baiklah.

Sebenarnya saya masih rancu dengan konsep: haruskah suatu hal dikerjakan dengan cepat, atau dikerjakan dengan banyak proses sampai dianggap siap.

Ada banyak hal yang meminta cepat adalah satu-satunya pedoman. Dengan cepat maka lebih mudah untuk menilai pun merevisi lagi kalau-kalau ada kekurangan. Dengan cepat pula maka kelegaan akan lebih cepat hadir. Bagian ini, saya pernah merasakan, bisa jadi sering.

Ada banyak hal lain yang menuntut untuk menjalani proses dengan seksama. Alibi yang dipakai: semakin matang, semakin baik. Tapi yang menjadi korban pasti lah bentuk waktu. Menjadi sangat fleksibel, artinya durasi menjadi prioritas ke sekian, yang penting hasilnya memuaskan. Bagian ini, saya juga pernah merasakan.

Sebenarnya ada satu pandangan saya mengenai hal ini. Mungkin merupakan hibrid keduanya. Selama ini prioritas saya adalah lebih cepat selesai, lebih bagus, karena ini terkait dengan tekanan batin yang ada. Menurut pengalaman sendiri, ketika pekerjaan masih belum berproses, dalam proses, atau nyaris melewati proses, maka bentuk tekanan-tekanan selayaknya ditagih hutang itu selalu muncul. Entah itu diharapkan atau tidak, dan secara jujur saya tidak suka dengan munculnya tekanan itu. Namun ada satu trik, ketika hal itu mengharuskan untuk penggabungan dua prinsip: matangkan data, setelahnya langsung eksekusi. Jadi semestinya ada banyak hal yang bisa di-press menjadi lebih padat. Apalagi pada tahap pematangan data hampir selalu bisa dilakukan secara multitasking, artinya bisa dilakukan bersamaan denganĀ  masalah data lainnya.

Sangat terbuka akan hal-hal lain dalam menyikapi masalah semacam itu. Perspekti baru, mungkin?