
Project 2014 Day 121 of 365
1 Mei 2014. Pemikiran Karl Marx akan menjadi bintang utama setiap tanggal 1 Mei menampakkan wujudnya. Bertepatan dengan ditetapkan tanggal ini sebagai Hari Buruh Internasional. Sebenarnya timbul rasa janggal yang tak berkesudahan dengan adanya peringatan ini. Bahwa adanya perayaan tersendiri menyebabkan semakin jelas dan nyatanya perbedaan strata kehidupan.
Pada waktu semua hal di dunia ini distandarkan dengan ritme pekerjaan, maka akan semakin sering terjadi kesenjangan. Tapi pada bagian lain, bentuk penetapan ini semacam memberikan kelonggaran bahwa semua golongan punya hak yang sama. Terlepas apakah gap yang ada itu bisa diterima semua kalangan atau tidak.
Hari ini ada berita yang dengan jelas menyebutkan: ada beberapa pengusaha mengusulkan agar libur hari buruh ditinjau ulang. Apa yang menjadi fokus mereka adalah penetapan libur nasional mulai tahun ini mengurangi keuntungan bagi perusahaan. Di sini lah letak ketidaksinkronan yang dimaksud. Buruh memegang Marx, petingi perusahaan memegang kapitalisme.
Tidak akan ada penyelesaian singkat untuk hal ini. Kontradiksi terlalu ada. Namun hal yang menjadi ujung penilaian di sini adalah poin pengusaha yang terlalu mendewakan profit. Tidak terlihat bahwa kedua belah pihak punya sebenarnya hak yang sama. Yang diperjuangkan masing-masing pihak adalah sesuatu yang horizontal, harusnya bentuk keadilan lah yang akan muncul. Namun alangkah picik dan egoisnya ketika salah satu pihak malah berusaha lebih menekan pihak lain?
Belajar dari pengalaman yang telah lalu, bahwa pada tahun-tahun sebelumnya ketika belum diliburkan, buruh melakukan tuntutan paksa supaya bisa turun ke jalan. Tidak sedikit yang juga memilih cara-cara anarki. Saat itu chaos bisa saja terjadi di mana-mana. Tahun ini, tanggalnya dirubah menjadi warna merah, artinya semua kalangan turut menikmati satu lagi hari kosong, perusahaan tidak perlu direpotkan lagi dengan tuntutan pembolehan turun ke jalan. Terlihat bahwa sebenarnya hal ini lebih menggembirakan. Lalu ketika yang disalahkan adalah mengurangi pendapatan? Apakah etis?
Perlu lagi adanya peninjauan. Bukan pada peninjauan hari libur nasional yang telah diputuskan, namun lebih kepada mental semua pihak yang masih memandang semua hal hanya dari sisi ego. Siapa pun itu, baik yang di atas maupun bawahannya. Kerena tahu sama tahu akan lebih menjelaskan daripada saling serang argumen yang bertujuan untuk menginjak orang lain.
Ini artikel yang saya maksud: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/05/01/0905444/Pengusaha.Minta.SBY.Tinjau.Hari.Libur.May.Day
Sudah merayakan apa hari ini?
Tontonan hari ini: Teen Beach Movie. Sebuah film TV yang sangat ringan dengan bumbu musikal menarik. Cukup dengan hal semacam ini. Setidaknya bisa menstabilkan mood. Butuh peregangan pikiran agar suntuk tidak menyerang secara diam-diam.