Sekuel Rio – Day 119 of 365

Project 2014 Day 119 of 365

29 April 2014. Mencari kebahagiaan jangan dibuat susah. Menggunakan sangkalan “sudah pernah” belum tentu cara itu sudah tidak berlaku. Saya masih bisa bahagia ketika menonton Rio 2 hari ini. Ada yang mengeluarkan argumen bahwa prekuelnya lebih bagus dan akhirnya mengesampingkan rasa bahagia yang sebenarnya ada. Saya pada posisi pengkritik pun akan berkata demikian. Namun hal itu tidak bisa mengesampingkan kepuasan yang ada setelah melihat ekor credit title.

Sepertinya memang harus ada suatu waktu ketika setiap orang memerlukan tontonan sederhana. Blu berhasil memberikan hiburan lewat ego yang ditampilkan. Tetap ada nilai tambah, pasti, di balik keburukan yang nyata terlihat. Tapi menjadi lebih baik ketika tidak menjadikan hal itu sebagai perusak segalanya.

Tengok Blu, dengan ke-soktahuannya agar “rencananya” tidak terlihat bodoh di depan istri, anak-anak, dan mertuanya, namun ternyata hal itu malah mencederai martabatnya sendiri. Namun tetap jangan lupakan bahwa sebenarnya Blu punya kekuatan hubungan kuat dengan manusia, yang pada film ini ternyata menjadi hal yang menguntungkan. Memberikan banyak perlindungan kemudian.

Bersorak layaknya anak kecil ketika penjahat–penebang dan pelaku illegal loging–tunggang langgang sebab diserbu oleh kawanan banyak spesies burung Amazon. Ada euforia yang nyata, yang sulit untuk dipenuhi oleh aksen manusia itu sendiri. Saya masih beranggapan bahwa sebelum menilai sesuatu hendaknya mencoba mengingat dan menyesuaikan level. Kalau ungkapan beberapa hari yang lalu, kalau tidak bisa sama-sama berlari, rangkul satunya agar setidaknya terdapat kesamaan lagi.

Sudah terhibur oleh hal apa hari ini?