The Physician – Day 108 of 365

Project 2014 Day 108 of 365

18 April 2014. Siapa sangka hari ini saya bakal bertatap muka dengan sebuah film yang bisa dibilang sangat cantik. Anehnya lagi, film ini kurang terdengar gaungnya, pun tidak ditayangkan di bioskop Indonesia. Mungkin penyebabnya karena ini buatan Eropa, bukan Hollywood. Tapi dulu A Separation buatan Iran saja bisa masuk, loh?

Judul setelah diadaptasi ke bahasa internasional menjadi The Physician. Mengambil latar abad pertengahan ketika perkembangan ilmu timur tengah sedang meraih masa kejayaannya. Ditandai oleh seorang tokoh yang sudah tidak asing lagi: Ibn Sina. Ya, sorotannya adalah bidang kedokteran dan pengobatan. Di sini lah saya menemukan banyak hal unik dan bisa dibilang waton bertebaran. Seperti teknik pencabutan gigi yang hanya menggunakan ajian kira-kira, dugaan roh jahat yang merasuki penderita sakit tertentu, sampai bedah manusia untuk pertama kalinya.

Sebenarnya bukan bagian yang biasanya saya cari, karena bisa ditebak bahwa darah bukanlah hal menarik, ngilu. Dari segi penceritaan secara pribadi saya menyukainya. Meskipun kalau mau dikritisi, keterlibatan banyak sekali tokoh yang muncul bisa menyebabkan kebingungan pada penonton. Ditambah dengan pembagian “kasta” kawan, lawan yang benar-benar halus, bahkan bisa terbilang samar. Tiba-tiba saja bisa muncul pengkhianat, atau pun perang besar. Lagi, visual yang diberikan di sini termasuk vulgar, terutama bagian pembedahan dan hal kedokteran lainnya. Sekali lagi saya tegaskan bahwa ini terjadi saat transisi kedokteran tradisional dan kedokteran menuju modern, ditandai dengan kehadiran Ibn Sina.

Yang menjadi nilai tambah lagi adalah tokoh utamanya di sini adalah orang kecil. Artinya sama sekali tidak ada kaitannya dengan orang berilmu sejak awal. Didasari oleh kenangan masa lalu yang kelam sehingga mendorongnya untuk melakukan pengabdian kepada pengetahuan. Menarik. Jarang saya bisa mengatakan suatu film tampil cantik, dalam artian sisi artistik yang disajikan memang tidak berlebihan, tepat guna juga. The Physician memiliki hal itu. Kalau mau dibandingkan, ketika menonton film ini saya teringat Cloud Atlas. Sama-sama megah dalam hal visualnya. Coba lah Anda menonton keduanya. Saya pribadi sangat mengagumi Cloud Atlas dan The Physician.

Pada akhirnya film ini benar-benar memberikan bekas yang baik. Selain bagian pengetahuan yang ingin ditonjolkan, kerukunan antar umat juga bisa terbaca di sini. Rasanya nyaman. Lihat rasa sakit hati yang bisa muncul ketika menyaksikan scene terakhir. Minimal saya sendiri merasa demikian. Presentasi yang sangat cantik, sekali lagi.

Sudah mengagumi apa hari ini?

Selain menonton The Physician, hari ini saya juga menonton Helium, film pendek peraih Oscars 2014. Ceritanya sederhana. Saya suka sentuhan humanis yang diberikan. Cara menghindari gap usia yang ada dan eksekusi visual yang cukup mewah. Menarik bagi Anda yang punya concern terhadap dunia anak-anak dan cara memahami pola pikir mereka.