Project 2014 Day 81 of 365
Terkadang tinjauan langsung akan lebih baik dalam menjelaskan daripada hanya mendengarkan cerita orang lain yang kemungkinan sudah mengalami banyak sekali distorsi makna. Pun ketika dikaitkan dengan hal-hal di balik layar yang terjadi di objek wisata pantai Kabupaten Gunung Kidul. Sejak TK setiap libur semester, hal yang pasti saya dan keluarga lakukan adalah plesiran ke pantai-pantai di pesisir selatan D. I. Yogyakarta. Paling sering Baron, Krakal, dan Kukup. Sebagai pengunjung normal, yang sudah membayar retribusi masuk tentu akan melakukan kunjungan layaknya turis lainnya: menikmati suasana sampai bosan.
Tidak terlihat seperti itu ketika Ocean of Life Indonesia memberikan tour di hari ke-2 pada kunjungan pengurus Padakacarma 22-23 Maret 2014 lalu. Karena yang saya temui bukannya keindahan luar dan dalam di wilayah itu, namun benturan kepentingan antar banyak pihak, bentuk tamparan tak terlihat. Istilah konflik horizontal akan sangat pas ketika dihubungkan dengan kasus ini. Karena secara umum, peran negara semacam tidak ada, tidak terlihat, nihil. Tengok ketika sampai di area objek wisata pantai, betapa banyak WC yang ada, sangat banyaknya warung dengan mayoritas didominasi oleh makanan instan homogen. Pun pengelolaan tempat sampah yang disfungsi, tidak sesuai dengan apa yang tertulis di bagian luarnya. Bahkan kalau mau sedikit lebih capek, coba berkunjung ke balik bukit-bukit. Dari jauh terlihat hijau dan alami, namun seteleh mendekat maka akan terlihat tumpukan sampah organik dan anorganik yang sangat massive.
Kalau mau terus diulik akar permasalahannya, maka akan muncul banyak sekali faktor yang selama ini mungkin tidak disadari bahwa hal itu malah memberikan dampak buruk. Salah satunya adalah media sosial yang sangat lekat dengan era sekarang. Pada hubungannya dengan objek wisata, simbiosis yang terjadi ternyata tidak bersifat saling mendukung. Ilustrasinya seperti ini: seseorang pergi ke pantai, kemudian berfoto dan diunggah melalui jejaring sosialnya serta diberi caption “pantainya keren banget, loh” lalu banyak teman-temannya yang penasaran dan di kemudian hari berkunjung.
Paradigma yang masih terjadi adalah wisata hanya untuk mencari keindahan. Pada bagian ini sangat terlihat salah satu akar permasalahannya, bahwa masyarakat juga belum semuanya melek masalah berwisata yang bertanggungjawab. Pada saat informasi itu tersebar dan banyak kunjungan yang terjadi, maka meningkatlah volume pengunjung serta sampah di objek wisata itu. Tidak akan menjadi masalah apabila kemudian pengelolaan kebersihan dan penampungan sampah berjalan dengan baik, namun yang terjadi adalah sebaliknya seperti yang sudah disinggung sebelumnya. Di satu sisi kita bisa sedikit lega karena “rusaknya Jogja” masih bisa disebut cantik, namun apa yang bisa dikatakan kalau kemudian rusaknya tidak bisa disebut cantik lagi?
Membentuk opini publik tentang responsibility tourism adalah pekerjaan rumah yang cukup berat bagi semua pihak. Di lain pihak, ketakutan yang kemudian muncul adalah ketika pengembang dan wisatawan sudah membanjir namun warga sekitar masih belum siap karena minimnya sosialisasi juga pendampingan yang membumi, bukan terkesan “mengajari”. Bagaimana supaya warga sekitar, pengembang, pun pengunjung bisa saling mengerti bahwa tempat yang dijadikan objek wisata itu adalah milik bersama.
Hari ini tanpa pertanyaan penutup. Terimakasih sudah membaca.