
Project 2014 Day 78 of 365
19 Maret 2014. Hal ganjil yang lagi-lagi saya peroleh, bahwa Indonesia masih butuh pendidikan formal. Selalu ada topik tak terduga dari diskusi yang dimulai melalui ketidakpastian. Lagian untuk beberapa hal memang akan lebih asyik ketika dilakukan dengan tidak sengaja. Ditambah adanya teman sharing yang saya rasa berada pada satu aliran.
Banyak pihak yang masih mencoba untuk menjadikan isu pendidikan sebagai ujungtombak program kerja. Namun mengenai hal pelaksanaanya, efektif dan sebagainya itu masih menjadi tanda tanya bersama. Pun di lain pihak, misalnya ada ujaran bahwa seseorang sudah dianggap expert di bidangnya, namun ternyata apa yang diucapkan tidak berbanding lurus dengan kemampuan sesungguhnya. Itu bisa dikategorikan menipu, kan?
Belum lagi masalah kedudukan yang ditentukan oleh secarik kertas agak tebal dan bertuliskan tangan rapi bergelar ijazah. Bagi idealis, hal itu menjadi hal biasa. Menjadi reward yang memang pantas didapat setiap orang yang telah melalui semua prosesnya, simbol. Namun tidak sedikit yang memperolehnya dengan praktek-praktek pembodohan diri. Beli, misalnya?
Di sini lah peran pendidikan formal seharusnya ditekankan. Memang bukan pada nilai eksak, namun pada pembentukan mental dalam melakukan pergaulan. Bahwa masih ada hal-hal tidak kasat mata yang seharusnya memang dilakukan. Bahwa kejujuran yang diawasi itu kelamaan akan menjadi sebuah budaya sehingga memberikan pantulan positif lanjutnya. Bagaimana semestinya pendidikan formal itu menjadi sebuah laboratorium besar dengan semua kontrol dilakukan secara bersama dan berkesinambungan. Di sini lah letak titik temu pada diskusi hari ini.
Berargumen ternyata belum semua orang secara sosial bisa dianggap telah lolos pada tahap seleksi mental ini. Indonesia masih membutuhkan pendidikan formal pada intinya.
Sudah memikirkan alternatif apa hari ini?