Project 2014 Day 52 of 365
21 Februari 2014. Jogja diguyur hujan gedhe lagi, dan kali ini akhirnya sungguh nyata hasilnya. Warna asli langsung muncul. Tidak kelabu lagi, setidaknya lebih bergairah daripada hari-hari terakhir, karena sesudahnya saya punya rencana kencan dengan Akademi Berbagi Jogja. Mereka mengadakan seminar Creative Writing bersama Ita Sembiring. Kondisi pertama: pembicara menjanjikan. Kondisi kedua: tempat kondusif (GraPARI telkomsel Jogja). Kondisi ketiga: ini gratis. Jadi, why not?
Kencan itu dibuka dengan sebuah kalimat “pintar aja ga cukup, bodoh juga ga dosa”.
Menulis adalah salah satu pencegah kepikunan. Namun pada kenyataannya akan banyak orang yang malas untuk melakukan karena kurang dorongan motivasi dari diri sendiri, tidak PD. Setidaknya kalau PD didapat maka usaha yang dikeluarkan bisa sangat maksimal dan hal itu lah yang menjadi faktor penentu apakah semua proses sisanya bisa terus berjalan. Melihat tulisan orang lain yang dirasa bagus, lalu timbul rasa minder, padahal kunci utama yang dibutuhkan adalah selalu anggap tulisan yang terlahir dari diri sendiri sebagai masterpiece. Kalau lanjutannya ternyata publik menolak, tetaplah berpandangan positif. Bisa jadi karena tulisan yang dihasilkan belum menemukan “rumah” yang sesuai, cari lagi medianya.
Kemudian kalau perasaan “ingin” sudah ada, yang lalu dijadikan kambing hitam berikutnya: katanya susah mencari ide. Ide terkesan tidak terlihat bisa jadi karena kurangnya pendalaman tentang hal itu, tidak tahu menahu, hanya angan tanpa bukti. Tulisan akan terlihat bernyawa apabila penulis tahu tentang semua seluk beluk intrinsiknya. Misal seting, tidak akan bernyawa apabila pengetahuan tentang tempat kejadian sangat minim bahkan tidak punya, sekalipun itu hanyalah tempat fiktif buatan sendiri. Yang terpenting dalam pengembangan tulisan adalah membuat hal sederhana menjadi istimewa. Bukan rahasia lagi bahwa publik akan tercuri perhatiannya oleh hal-hal dengan ide menarik sebagai landasan.
Berbeda kasus lagi apabila kemudian tulisan yang tercipta orientasinya sudah komersil, industri uang. Maka pada stage itu perasaan yang timbul bakal berbeda, bisa jadi malah penulis tidak mengenal tulisannya sendiri. Dalam hal seperti ini menjadi sangat penting untuk memutuskan tujuan awal setiap akan menulis. Tujuan ini harus tetap dijadikan patokan utama, ditentukan di awal penciptaan, pekerjaan selanjutnya adalah tinggal mengikuti alur yang tercipta. Misal ada perubahan di tengah jalan maka tidak akan terlalu timbul masalah.
Terkait plot penulisan, sebenarnya penting atau tidak sih perumusan kerangka? Hal ini berlaku hukum opsional. Dalam artian tidak semua orang punya formula yang sama. Namun akan sangat membantu apabila penulis membuat poin-poin garis besarnya dulu, sehingga kerapatan plot bisa terjaga. Tidak harus kerangka kompleks, yang dibutuhkan adalah penentuan-penentuan pilihan koridor.
Masalah lain adalah metode penulisan, sebenarnya hal ini tidak akan menjadi problem apabila setiap orang menulis sesuai dengan kemampuan diri sendiri. Penulisan dengan porsi pribadi akan menimbulkan kesan yang “enak dibaca”. Karena setiap tokoh memiliki gaya penulisan yang berbeda pula. Rule yourself! Di lain pihak, kebebasan ekspresi tetap harus dipegang, karena di situ terletak semua modal utama. Alur di belakang layar tetap harus terjaga ritmenya, salah satu yang wajib dilakukan adalah manajemen waktu. Hal itu akan sangat bermanfaat. Prinsip dasar lain adalah penggunaan kalimat efektif, cara mudahnya adalah ekonomi kata tetap menjadi perhatian vital. Ini berkaitan dengan tingkat “kecapek-an” yang timbul ketika sedang dan sudah membaca tulisan ciptaan.
Menulis itu mudah, menulis itu menyenangkan. Satu lagi, menulis itu milik semua orang. Brace yourself!
Sudah menulis hari ini?