
Project 2014 Day 10 of 365
Hari ini saya ujian UAS dua mata kuliah: Pancasila dan Pendidikan Agama Islam. Keduanya berlangsung lancar. Dan lagi keduanya bersifat open book. Bukan masalah kelonggaran ini yang menjadi perhatian saya, namun lebih kepada: apakah setelah semua mata kuliah ini selesai saya tempuh, masih ada yang bisa diingat?
Saya merasa ikut panik ketika diumumkan bahwa sifat ujian Pancasila adalah open book, kemudian teman saya belum mencetak handouts-nya dan meminjam milik saya untuk difotokopi sewaktu soal sudah dibagi. Dia bermaksud menggandakannya dengan alibi izin ke restroom. Sialnya, salah satu pengawasnya, perempuan, tiba-tiba keluar dan langsung berteriak keras pada teman saya tersebut, “Kalian bohong!”
Panik. Panik. Panik.
Naluriah untuk me-release perasaan semacam itu. Kemudian mereka kembali ke kelas dan belum sempat memiliki kopiannya.
Tidak ada pihak yang ingin saya salahkan pada tulisan ini. Saya pikir bahwa untuk setiap hal yang akan dihadapi, sudah seharusnya dilakukan plan bertingkat. Saya selalu melakukan itu. Setidaknya ada satu cadangan apabila yang pertama tidak berhasil terjadi. Saya bukan parvenu, meskipun akan sangat nyaman ketika berhasil mencapai posisi itu. Namun selama ini saya menganggap bahwa usaha sekecil apapun itu patut diperhitungkan.
Masalah review materi sekalipun, saya tidak terbiasa buta saat menjalaninya. Sebisa mungkin saya mengetahui tentang apa yang akan saya hadapi. Minimal kalau itu ada bentuk bacaan fisik maupun digital, bahkan verbal, akan saya coba serap sekali. Kalau ada waktu, ya diulang lagi, berkali-kali sampai susah untuk mengabaikannya.
Kalau Anda sudah menonton The Wolf of Wall Street (2013), saya menontonnya hari ini, di salah satu scene sederhana film ini, ketika dua agen FBI berkunjung ke yact milik Belfort untuk melakukan ‘interogasi’ ada sebuah kalimat yang sangat saya sukai. “Opportunity is everything”.
Believe it! Kesempatan memang berjalan di lajur yang absurd, seringkali. Sehingga kita sendiri selalu menolaknya atas nama rasa malas yang mendominasi. Film ini sebenarnya memang mencerminkan kalimat tersebut. Meskipun melalui celah buruk sekecil apa pun, pada akhirnya akan menjadi suatu hal yang huge. Dengan oplah dollar tidak manusiawi. Tiga jam durasinya, dan saya sama sekali tidak merasakan bosan. Bahkan secara personal saya lebih memilih film ini untuk berjaya di acara awards yang sebentar lagi akan ramai dihelat, sebut Golden Globes dan Oscars.
Sudah melihat kesempatan apa hari ini?
parvenu /pravénu/ (n) 1 orang yang dengan cepat mencapai kedudukan sosial yang sangat penting tanpa bersusah payah berusaha; 2 orang yang dibesarkan dan dididik di dalam lingkungan sosial yang tinggi tanpa berusaha.