CERPEN | Hujan

Oleh: Muhammad Ikhwan Anas

Kapan hujan turun seperti rasanya baru kemarin? Padahal itu adalah tahun lalu. Tanganku meremang. Dingin dan aku masih bisa merasakannya. Setidaknya indera perabaku masih berfungsi. Sore ini, langit berwarna oranye di satu sisi, dan hitam di sisi yang lain. Sangat kontras.

Namun yang masih mengganjal batinku: kenapa hujan belum juga turun?

            Memori itu merekah hampir setiap sore. Membelai kalbuku yang nyatanya perih setiap mengingatnya. Menggoncang naluriku bila berusaha melupakannya. Namun sore ini berbeda.

Aku merindukan hari itu.

            Teh hijau yang ada di depanku airnya semakin pekat. Daun teh yang yang tadi kering, sekarang lembab dan berair mengambang di permukaan. Dia layu. Kebun teh di jangkauan pandanganku itu mulai meremang, tersirat cahaya matahari yang mulai bersembunyi pelan. Aku duduk, diam.

Aku ingin waktu itu tak terjadi.

            Desiran angin dingin menusuk tengkukku, membuat tanganku refleks mengusapnya. Daguku dingin, mataku sembab. Hari ini tepat satu tahun. Satu tahun ketika aku mulai kehilangan bagian berharga dari karunia Tuhan. Satu tahun adalah saat yang sangat cukup untukku menyadari apa yang sebenarnya terjadi.

 —

Hari itu hujan. Kebun teh berbayang-bayang tertutup tirai hujan. Aku sedang duduk di beranda rumah. Saat itu aku masih lima belas tahun.

            Suara mama yang memanggil dari dalam pondok tidak terlalu jelas. Mulutku hanya menjawab dengan dengungan. Rumah kami adalah sebuah pondok kecil di tengah hamparan kebun teh. Terbuat dari kayu gelondongan model rumah kebun pada umumnya. Atapnya terbuat dari seng dan tumpukan daun lontar kering.

            Aku berjalan ke dalam rumah. Namun beberapa saat kemudian aku langsung membalikkan badan karena mendengar suara dengungan yang semakin keras. Dari kejauhan aku melihat gulungan kotor menjulang tinggi ke atas yang melaju menuju pondok kami. Saat itu ragaku benar-benar terpaku, tak pernah aku lihat keajaiban semacam itu, atau mungkin sekarang aku lebih memilih untuk mengingatnya sebagai bencana.

Tanaman teh yang masih diguyur hujan perlahan melayang dan melesat ke atas, menghilang, lenyap. Kejadian itu sungguh berlangsung sangat cepat. Aku hanya ingat mama berteriak keras dan aku tertimpa tiang penyangga rumah, tepat di sisi kepalaku.

Seketika gelap.

Tahun lalu itu, kupikir aku sudah tiada. Aku merasa tak perlu memikirkan apapun. Sampai seminggu setelahnya pun duniaku masih gelap. Baru pada hari ke delapan, aku mulai bisa merasakan jemariku lagi. Mataku juga mulai bisa bergerak. Aku mulai ingat bagaimana caranya melihat, masih samar.

            Pikiranku beradu dengan situasi ketika seorang wanita menjentik-jentikkan jemarinya di dekat kepalaku. Tunggu. Apa yang dilakukan wanita itu? Aku tidak bereaksi! Dia menggeleng. Aku tidak mengerti! Wanita itu mengambil papan putih dan menuliskan sesuatu:

Kamu mendengar suara?

            Aku hendak menjawab, namun rasanya sulit sekali mengingat bagaimana caranya! Butuh jeda waktu hingga aku mengerti apa maksudnya. Aku mencoba sekali lagi. Tetap gagal!

            Pipiku menghangat, air mataku meleleh perlahan menggenangi pelupukku dan mengalir pelan ke bawah. Hari itu, untuk pertama kalinya kusadari bahwa kenyataan sangat pahit harus kuterima, aku jadi bisu temporer dan tuli.

Beberapa hari kemudian setelah aku lumayan pulih, seseorang menuliskan sebuah kalimat yang membuatku nyaris tak kuasa lagi: mama sudah tiada.

Sore ini, aku bersandar di dinding. Pondok ini segera dibagun lagi setelah bencana itu atas permintaanku. Aku bilang bahwa ingin tetap tinggal di sini, menjaga rumah ini. Aku ingin terus bersanding dengan roh mama.

Sore ini pula aku menanti saat yang aku rindukan. Saat ketika keadilan itu boleh aku katakan adil. Aku juga rindu bau tanah yang menguap itu, bau tanah yang membuatku tenggelam dalam kebinasaan sesaat.