CERPEN | Mereka Salah!

Oleh: Muhammad Ikhwan Anas

Namamu adalah Roeim. Ibumu selalu berujar bahwa kamu bahkan akan sangat sering lupa dengan namamu sendiri. Kamu pasti akan selalu lupa dengan hal itu, ingatanmu akan masa lalu yang terlampau penting sangatlah tidak bisa diandalkan.

Sekarang apakah kamu ingat lagi siapa dirimu?

Di dinding pucat itu tergantung sebuah lukisan tua seorang perempuan, di atasnya (di atas lukisan, tepat di samping perempuan itu) ada sebuah foto laki-laki hitam putih berukuran 10R yang dipotong sesuai lekuk tubuhnya. Itu adalah kamu, kamu yang menempelkannya. Ingatkah dengan si perempuan? Kalau saja tidak ada tulisan di bawahnya, sudah tentu kamu tidak akan bisa mengingatnya. Sebenarnya dia adalah nenekmu, kamu sendiri menyebutnya sebagai: ibu. Iya, orang yang berujar padamu.

Kamu sering marah akhir-akhir ini. Ibumu kemarin dibawa oleh orang-orang asing di senja hari. Orang-orang yang tidak penting, sehingga kamu bisa mengingatnya dengan jelas. Mereka memakai pakaian aneh dengan tempelan-tempelan gambar kecil yang aneh pula. Satunya berjenggot putih, satunya lagi masih muda.

“Ibumu harus segera dimakamkan.”

“Tidak, dia sehat.”

Kamu menolak. Kamu melihat ibumu baik-baik saja. Masih duduk dengan tenang tidak bergerak di kursi kesayangannya. Kamu selalu membuatkan teh untuknya, menggantinya setiap hari meskipun ibumu tidak pernah terlihat meminumnya. Kamu yakin ibu terlalu sibuk menyelesaikan rajutannya sehingga bisa lupa makan, minum, mandi, bahkan beranjak dari tempat duduknya.

“Para tetanggamu sudah beberapa hari mencium bau sangat busuk dari sini.”

Kamu masih tidak tertarik dengan kedua orang itu, lehermu yang panjang kau julurkan melewati atas kepala mereka, melihat ada sebuah mobil putih bertuliskan MOBIL JENAZAH. Kamu marah karena mereka menganggap bahwa ibumu sudah meninggal, tidak! Tidak! Mereka yang tidak penting! Kamu membanting pintu di depan wajah mereka.

Di hari berikutnya, kamu menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh. Pintu depan berderit agak terbuka, tidak sepenuhnya tertutup seperti terakhir kali kamu ingat. Lainnya, ibumu tidak terlihat di kursinya.

Kamu sangat panik, berlari ke semua ruangan, bahkan ke kolong tempat tidur. Tetap tidak ada. Ibumu telah diculik oleh orang-orang aneh kemarin! Setidaknya itulah hipotesis terkuatmu. Tidak ada yang mengunjungi rumah ini sejak lama selain mereka berdua kemarin sore.

Itulah mengapa kemudian kamu sangat geram. Membanting semua hal yang terjangkau oleh tanganmu. Hingga akhirnya kamu lelah dan terbaring di kamarmu. Hari ini, sambil terus menatap lukisan tua itu.

Mungkin kamu tidak mengerti. Tetapi tidak mungkin, kamu mengerti semua hal yang terjadi. Pasti semuanya akan segera kamu sadari. Segera.

ROEIM merasa aneh setelah bangun pagi ini. Dia tidak berada di kamarnya sendiri, dia tidak bisa mengingat keberadaannya. Ruangan ini berwarna kuning, keseluruhan kuning. Membentuk motif kotak-kotak besar yang kelihatannya empuk. Dia berusaha menabrak dinding-dinding itu, namun tetap tidak berhasil, dia terpental ke belakang. Roeim bahkan tidak tahu mana pintu untuk ruangan ini. Di atasnya hanya terdapat lubang ventilasi, tidak bisa dijangkaunya. Dia benar-benar bingung.

Hal terakhir yang diingatnya adalah berada di kamarnya yang lama, yang berdinding pucat, yang memiliki lukisan ibunya dan dia di salah satu sisi. Ini berbeda. Tiba-tiba ada sebuah celah agak tinggi yang terbuka. Dari sana keluar gumpalan putih dan hitam. Ada secarik kertas juga.

Bukan itu yang menarik perhatiannya. Roeim berusaha melompat ke arah lubang itu sebelum tertutup. Jemari kanannya berhasil sampai, namun tidak berapa lama karena sesaat kemudian lubang itu langsung tertutup kembali dan dia langsung jatuh di busa kuning lagi.

Roeim mendekati benda yang tadi dijatuhkan oleh siapa pun itu. Gumpalan putih dan hitam itu dikenalinya sebagai baju berkerah serta celana panjang. Masih ada satu hal, kertas yang juga tadi disertakan. Dia tidak tertarik samasekali. Namun satu-satunya hal yang membuatnya berubah pikiran adalah ketika melihat foto ibunya yang terbaring berada di dalam kotak seukuran tubuhnya, memakai dress yang sangat cantik, matanya ditutupi dengan kacamata hitam. Di kanan-kiri tubuhnya banyak bunga bertebaran. Kertas itu berbunyi:

Roeim,

Tolong segera bersiap untuk pemakaman nenekmu.

Kamu merasa dipermainkan oleh orang-orang lain. Sebelumnya ibumu diculik dan hari ini kamu terbangun di sebuah ruangan aneh berwarna kuning dimana-mana. Tadi kamu melihat ada seseorang yang memasukkan pakaian dan kertas melalui sebuah celah yang kemudian segera ditutup sewaktu kamu berusaha meraihnya. Kemudian hal yang lebih aneh adalah isi kertas itu.

Kamu mengenali dengan jelas foto yang juga ada di situ. Ibumu, didandani seolah-olah dia sudah mati. Tidak hanya didandani, tapi juga dimasukkan ke dalam peti, kamu jelas merasa tidak terima.

Tertulis juga hal yang membuatmu tambah bingung, ‘tolong segera bersiap untuk pemakaman nenekmu.’ Kucing mandul! Mereka sudah menculik ibumu, lalu mereka berani-beraninya menyebutnya sebagai nenekmu. Lagi, kamu semakin geram, semakin tersinggung, kamu berteriak-teriak, memukul, menendang dinding kuning di sekelilingmu, kamu semakin yakin mereka salah membawa orang!

Siapa Roeim?!

Mereka Salah!