Tantang Dirimu dengan Mimpi (Edensor, Review Film)

image

Produser : Putut Widjanarko, Avesina Soebli
Produksi : Mizan Production, Falcon Pictures
Sutradara : Benni Setiawan

“Bermimpilah setinggi langit, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu” —Arai

Kutipan di atas seharusnya sudah tidak terdengar asing bagi teman-teman yang membaca novel tetralogi Laskar Pelangi juga menonton film Sang Pemimpi, dan sekarang Edensor sudah mulai tayang (Premiere 24 Desember 2013). Meskipun terdapat sedikit perubahan kata dari versi aslinya, namun quote tadi tetap memiliki efek magis tersendiri, terutama bagi saya.

Kemarin tanggal 24 Desember jam 13:40 saya bersama 4 teman lainnya memilih untuk menonton film Edensor ini. Saya pribadi memang sudah menargetkan dari jauh-jauh hari harus menonton di hari pertama, bukan apa-apa,  tapi lebih karena novel Edensor adalah favorit saya. Sekitar sudah lima kali saya membaca ulang versi novelnya.

Apa yang berbeda dengan adaptasi kali ini? Lumayan banyak, karena sutradara ganti, rumah produksi pun juga. Benny Setiawan (Catatan Harian Si Boy) menempati posisi director kali ini, sedangkan rumah produksinya digantikan oleh Falcon, setelah dua film sebelumnya diserahkan kepada Miles. Saya pribadi tidak mempermasalahkan hal ini selama pesan dan adaptasi novelnya bisa delivered dengan baik. Pun saya maklum karena mengerti posisi Miles yang sangat sibuk dengan banyak project mereka, lagi sepertinya genre untuk Edensor bukan pada teritori Riri dan Mira. Seting waktu di film ini berubah, kalau di novel berkisar akhir 90-an, di sini diubah menjadi tahun 2000-an, hal ini juga memberikan kemudahan pada eksekusinya. Satu lagi, Arai ganti pemain, sekarang yang memerankan adalah Abimana. Saya sebagai pecinta versi novelnya merasa bahwa Abimana memang lebih cocok untuk peran Arai daripada Nazril Irham (Ariel). Pilihan yang tepat.

Sebelum masuk ke bagian review, saya akan sedikit mendongeng tentang sinopsis film ini: Arai dan Ikal berhasil memperoleh beasiswa ke Universitas Sorbonne, Paris. Di awal, mereka lupa mengkonfirmasi kedatangan sehingga terpaksa diusir dari penginapan, Ikal hampir mati kedinginan, untungnya Arai bisa menemukan humus yang bisa menghangatkan Ikal. Cerita berlanjut tentang keseharian mereka di kampus, Ikal selalu bersama 3 orang temannya yang disebut Pathetic Four. Di tengah perjalannya, tak disangka Ikal bisa dating with Katya, perempuan yang paling menawan di sana. Ikal juga teringat dengan A-Ling, hal-hal flashback lah yang akhirnya membuatnya bimbang antara memperjuangkan cinta dan cita-cita.

Begitulah kira-kira sinopsis dari filmnya. Memasuki bagian review, hal pertama yang terlintas adalah: well done bagi sinematografi film ini! Paris terlihat mempesona di setiap scene-nya. Benny juga berhasil mengeksekusi script-nya dengan baik sehingga tetap setia dengan novel. Hal yang agak disesalkan lebih kepada penggalian sisi percintaan yang rasanya terlalu diperpanjang, sehingga menimbulkan perasaan agak bosan di tengah film. Begitu juga dengan peletakan banyak atribut sponsor yang seringnya malah membuat penonton menghela napas karena peletakannya yang mendapat porsi lumayan banyak. Untungnya hal-hal itu bisa ditutupi dengan baik oleh akting para pemainnya, Lukman Sardi (as Ikal) dan Abimana (as Arai) bisa membuat chemistry yang tetap nyaman ditonton. Tokoh Katya berhasil mencuri perhatian saya sepanjang film. Saya suka dengan penampilan dan ke-simple-an pola pikirnya, meskipun saya tetap kurang setuju (meskipun juga ngakak) dengan statement-nya yang menyebutkan “cinta adalah channel TV”.

Selain Katya, pemeran Ninockha (anggota Pathetic Four) juga sukses merebut perhatian meskipun hanya mendapat porsi peran yang sedikit. Namun seperti penyakit yang sepertinya sudah menjadi hal turun-menurun industri film di negeri ini, masalah durasi. Sewaktu credit keluar, saya kaget, kok sudah selesai? Benny baru memvisualisasikan sampai setengah bagian, setengahnya belum. Mengapa tidak sekalian 2,5 jam sehingga bisa tuntas ceritanya?

Karena rasa penasaran itu, akhirnya saya coba tanya di twitter langsung pada dia. Apakah Edensor dijadikan dua film?

Jawaban dari Benny: iya, rencananya begitu.

Sial! Saya harus menunggu lagi kalau begitu. Bagi yang bukan pembaca novelnya saya yakin tidak akan kecewa dan sangat menikmati film ini, bagi pembacanya pun, seperti saya, juga tidak akan kecewa, hanya saja pemvisualan yang belum tuntas tadi lah satu-satunya hal yang mengganggu. Secara keseluruhan, Edensor melompat sedikit di atas visualisasi Sang Pemimpi, Edensor menyajikan keindahan plot dan juga landscape kota Paris. Musik background dan soundtracknya digarap dengan asik serta ciamik. Dialog komedi melimpah di sepanjang film, yang perlu diantisipasi adalah kolaborasi maut antara Ikal, Rhoma Irama, serta Adam Smith! Siapkan perut dan kotak tertawa teman-teman.

Pada dasarnya, saya tetap menyukai adaptasi ini, saya menunggu janji Benny untuk melanjutkan kisah yang baru sepotong ini menjadi sebuah cerita lengkap dengan Edensor Village sebagai puncaknya, kelak.

Berapa penilaian dari saya? Secara keseluruhan saya memberi 8/10.